SENGAJA DIBAKAR: Anggota keluarga korban meninggal dunia dalam kebakaran Pondok Pesantren Darul Qur'an Ittifaqiyah di pinggiran ibukota Malaysia, Kamis (14/9/2017). (ap)

KUALA LUMPUR | duta.co – Kebakaran yang menewaskan 21 santri dan 2 guru di pesantren Kuala Lumpur, Malaysia, ternyata dilakukan dengan sengaja. Peristiwa tragis itu bukan kecelakaan. Polisi telah menangkap tujuh orang yang diduga pelaku pembakaran tersebut.

Diberitakan Reuters, Minggu (17/9), polisi mengatakan pembakaran di pesantren tahfidz Darul Quran Ittifaqiyah di Jalan Datuk Keramat dilakukan oleh para pelaku, Kamis (14/9) lalu, atas dasar balas dendam. Ketujuh terduga pelaku adalah remaja sekitar pesantren, berusia antara 11 dan 18 tahun.

Menurut Kepala Polisi Kuala Lumpur Amar Singh, para terduga pelaku ditangkap antar Jumat (15/9) malam hingga Sabtu (16/9) sore. Singh mengatakan, mereka mengaku kesal kepada para santri setelah diejek.

Salah satu terduga tertangkap kamera CCTV sebelum kebakaran terjadi. “Penyidik menemukan motif mereka untuk membakar pesantren. Tujuannya agar terjadi kecelakaan karena kebakaran,” kata Amar. “Tapi mungkin karena usia mereka yang masih muda, mereka tidak tahu tindakan tersebut akan berakhir seperti ini,” lanjut dia.

Amar mengatakan, pelaku menggunakan dua gas silinder dari lantai satu pesantren untuk melakukan pembakaran di lantai tiga. Kebakaran terjadi sekitar pukul 05.00 WIB di asrama santri.

Polisi menduga para pelaku melakukan tindakan itu ketika sedang mabuk. Dalam uji narkotika, enam dari tujuh terduga pelaku positif mengonsumsi ganja, dua di antara mereka punya catatan kriminal. Amar mengatakan, ketujuh anak itu putus sekolah dan tinggal dekat pesantren. Kini kasus ini diselidiki atas tindak pembunuhan.

Awalnya penyidik menduga kebakaran terjadi akibat korsleting listrik. Enam santri terluka dalam peristiwa itu, sisanya tewas di dalam kamar asrama yang pintunya terbakar dan jendelanya diteralis besi.

“Saya tidak mengira kebakaran ini disengaja, awalnya saya mengira karena korsleting listrik,” kata Siti Salfari Ismail, yang kehilangan putranya yang berusia 10 tahun. “Mereka sangat kejam. Banyak yang meninggal. Saya tidak mengira ada yang tega melakukan ini,” lanjut Siti lagi.

Kebakaran ini adalah yang paling mematikan dalam 2 dekade terakhir. Peristiwa ini memicu kemarahan publik dan muncul desakan agar ada pengamanan lebih untuk pesantren.

Polisi menangani kasus ini sebagai pembunuhan dan kenakalan yang berujung pada kebakaran. Peristiwa ini sendiri terjadi pada Kamis (14/9) saat mayoritas santri sedang tidur.

“Niat mereka adalah untuk membakar, itu bisa saja akibat usia atau kedewasaan mereka. Mungkin mereka tidak tahu bahwa itu bisa menyebabkan kematian,” tutur Amar Singh saat ditanya apakah para remaja itu berniat membunuh.

Kebakaran di Sekolah Tahfiz Darul Quran Ittifaqiyah terjadi pada Kamis (14/9) pagi dini hari. Para korban diduga terjebak di dalam asrama karena jendela kamar mereka dilindungi dengan teralis besi.

“Ini merupakan musibah kebakaran terburuk di Malaysia dalam 20 tahun terakhir,” kata Khirudin Drahman, Direktur Departemen Kebakaran dan Keselamatan kepada AFP.

Perhitungan awal, jumlah korban yang tewas mencapai 25 orang. Namun, kemudian, pihak kepolisian merevisinya menjadi 24 orang.

Polisi mengatakan, 22 orang korban tewas adalah siswa. Kesemuanya merupakan anak laki-laki yang berusia 13-17 tahun. Sedangkan dua orang korban merupakan guru dan staf di pesantren tersebut.

Sementara itu, ada 10 orang korban luka yang dilarikan ke rumah sakit. Empat di antaranya mengalami luka serius.

Kebakaran dilaporkan terjadi pada pukul 05.40 waktu setempat pada Kamis. Menurut pihak kepolisian, api sudah menjalar sebelum itu. Berdasarkan foto dan video yang beredar di media sosial, seluruh kamar bagian atas sekolah tersebut ludes terpanggang api.

“Berdasarkan penyelidikan awal kami, posisi korban yang ditemukan mengindikasikan bahwa mereka berupaya menyelamatkan diri melalui jendela, namun tak bisa karena ada teralis besi,” jelas Deputi Direktur Departemen Kebakaran dan Keselamatan Soiman Jahid.

Media lokal juga melaporkan, operasional sekolah ini diduga melanggar peraturan pemerintah, karena pengajuan izin pengaman kebakaran tersebut diduga masih di-pending. Menteri kesejahteraan dan perumahan Malaysia mengatakan, ada 29 insiden kebakaran di sekolah-sekolah tahfiz di Malaysia sejak 2015.

Beberapa tetangga yang tinggal di sebelah asrama mengatakan, mereka mendengar teriakan dan melihat api yang berkobar. “Anak-anak itu berteriak minta tolong, namun saya tidak dapat menolong mereka karena pintunya sudah terbakar,” jelasnya.

Di sebuah jendela yang tampak tidak ada teralisnya, ada sekitar delapan orang anak yang berhasil menyelamatkan diri dengan pergerakan pada pipa saluran air.

Kepala Polisi Kuala Lumpur Amar Sigh mengatakan, sangat disayangkan, hanya ada satu pintu keluar. “Sehingga mereka tidak dapat melarikan diri. Seluruh tubuh saling bertumpuk satu sama lainnya,” kata Singh.

Perdana Menteri Najib Razak mengutarakan rasa simpatinya kepada para korban dan kerabat lewat Tweeter. hud, rtr, bbc

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan